Kadang-kadang mimpi saya bisa terasa sangat nyata. Cerita maupun latarnya juga bisa jadi terlalu jelas. Maksud saya, kadang saya bisa mengenali bahwa ini mimpi, tapi dalam beberapa kasus, saya tidak bisa. Setelah bermimpi, kadang saya bangun dengan sakit kepala. Seperti setelah mimpi combo yang saya alami beberapa hari lalu.
Mimpi pertama, entah bagaimana mulanya, saya bertemu dengan sepasang kekasih. Kami lalu memutuskan untuk melakukan ménage à trois. Sebagai keterangan, di dunia nyata ini, saya sama sekali tak terpikir untuk melakukannya. Tapi di mimpi, kami merencanakannya. Saya dengan si wanita, saya dengan si pria, dan mereka berdua. Namun, sebelum rencana ini berlanjut, si wanita mendadak memaksa kami membatalkannya. Ia bahkan menyebut saya jalang karena pernah melakukan three-way dengan pasangan lain. Saya awalnya berusaha menjelaskan, namun saya rasa percuma karena wanita ini bodoh. Kalau saya bukan jalang, tentu saya tidak akan mau saja mereka ajak three-way. Dan sekarang ia menyabotase rencana kami dengan alasan karena saya jalang? Bitch, please. You don’t say?
Mimpi kedua, saya naik kendaraan mirip ATV menuju ke sebuah pasar di dekat pelabuhan (Naik ATV ke pasar loak? Jangan tanya, di dunia nyata, saya bahkan tidak tahu cara mengemudikan skuter transmisi otomatis.). Ceritanya, saya sudah sering pergi ke sana untuk meloakkan barang-barang. Beberapa pedagang sudah akrab dan tahu nama saya. Namun, masih ada juga alay-alay yang dengan tidak sopannya bersiul menggoda saya. Saat dalam perjalanan ke pasar itu, saya bahkan sempat berpapasan dengan seorang teman.
Karena pasar tersebut juga cukup ramai dengan kapal-kapal kecil, saya agak kebingungan mencari kios yang saya tuju, yang letaknya di dekat dermaga. Saya bertanya pada seorang pedagang mengenai dermaga tersebut, namun sepertinya ia agak salah paham. Ia mengira saya minta ditunjukkan jalan ke dermaga pulau seberang. Jadilah, setelah melompati beberapa kapal kecil, saya malah masuk ke pasar di pulau seberang. Saat itu saya panik dan merasa tidak yakin harus bagaimana. Kapal-kapal kecil yang tadi saya gunakan sebagai jembatan kini sudah berubah posisinya, sehingga saya tidak bisa kembali dengan cara yang sama. Mungkin saya harus naik feri untuk pulang, namun saya tidak tahu apakah uang di dompet saya cukup untuk ongkosnya. Saat saya sedang kebingungan, saya pikir mungkin lebih baik makan dulu saja. Yah, bodoh memang. Uang belum tentu cukup untuk ongkos, malah mau makan dulu. Tapi itulah yang saya lakukan. Saya mendatangi seorang pedagang makanan, menanyakan harga tahu tauco (kenapa pula tahu tauco ya?) yang ia jual. Ia jawab, harganya Rp 7500 per porsi, namun ia tidak yakin. Ia lalu sibuk mencari sesuatu yang ia sebut “daftar harga makanan hari Kamis.” Tepat pada saat itu, saya terbangun dengan sakit kepala. Juga rasa syukur karena dua kisah tadi hanya mimpi.
Belum lama ini, saya menjual ponsel lama saya, sebuah Blackberry Curve 8520 yang hampir dua tahun ini saya pakai. Keadaannya tidak begitu baik saat saya jual, dengan baterai yang sudah drop, karet tombol softkey yang sudah mulai mengelupas karena sering tertusuk kuku, ditambah layar yang suka mendadak berubah blank. Memang katanya masih bisa diperbaiki, namun biaya perbaikannya relatif mahal. Apalagi Mbak di counter ponsel yang saya datangi kemudian sibuk membujuk saya untuk menjual ponsel itu.
Dan ya sudah, saya lepas ponsel itu dengan harga Rp 550.000, sekitar 55% dari harga Gemini bekas yang masih baik keadaannya. Mungkin si Mbak bisa dengan cepat memperbaikinya dan menjualnya kembali dengan harga utuh. Saya rugi? Jujur saja tidak. Saya malah untung Rp 550.000. Kok bisa? Ya iyalah, wong ponsel itu saya dapat secara gratis, hadiah dari undian di supermarket.
Tapi saya tidak menduga ponsel itu akan dengan cepatnya move-on dari saya. Tak sampai sebulan setelah saya jual, tiba-tiba ada notifikasi di grup Blackberry Messenger keluarga kami. Anggota grup bertambah satu menjadi limabelas orang. Seseorang dengan nama saya dinyatakan baru bergabung. Seseorang yang kemudian berganti nama menjadi “6A03L Amboerad03L” dan berganti foto menjadi foto mas-mas berkacamata hitam. Hmm, pasti dia pemilik baru si Gemini. Ah ya, saya memang lupa me-wipe handheld sebelum menjual ponsel lama saya itu. Pasti karena itu, dia jadi tak sengaja bergabung kembali dalam grup itu.
Reaksi pertama saya; “Wow, hapenya udah laku!”. Dan yang kedua; “Yah, alay.”.
Karena saya adalah admin grup Blackberry Messenger itu, saya bisa dengan cepat me-remove si pemilik baru dari grup. Namun apa yang terjadi, saya malah mengulur waktu, sambil memerhatikan pergantian status Mas Gaul Amburadul itu. Bukan, saya bukan penasaran sama orangnya. Hanya saja, yah saya tahu ini lebay, saya perlu waktu untuk menerima bahwa si Gemini sudah bukan punya saya. Dia sudah move-on, secepat Aurel Hermansyah move-on. Saya sempat terpikir untuk meng-add lagi PIN lama saya, sekedar untuk mengetahui bagaimana watak orang yang kini dilayani oleh si Gemini. Doh, lebayatun deh saya.
Hingga akhirnya pagi ini, saya berpikir bahwa saya harus melepaskan si Gemini sepenuhnya. Itu adil untuknya. Toh saya sudah punya penggantinya. Jadilah, saya remove si Mas Gaul itu dari grup.
Selamat tinggal, Gemini yang sudah move-on. Kini giliran skripsi saya yang harus segera move-on dari Bab II.
Dan, oh, kalo pingin ngobrol sama pemilik baru si Gemini, monggo add PIN-nya: 21E09A96.
*jahat*
*ih biarin, wueeeekkk*
di lemari es ada lima wadah es krim ukuran besar.
sebesar stoples wafer stick.
aku ambil salah satu.
aku buka. astaga, banyak sekali isinya. sebanyak ini untuk aku sendiri!
aku ambil sendok.
aku siap-siap menyuap.
lalu aku bangun.
tanpa tahu bagaimana rasanya.
Kemarin, mimpi saya mengambil setting sebuah lingkungan kerajaan. Entah kerajaan apalah itu. Yang jelas bukan kerajaan Britania Raya, karena orang-orangnya berwajah Melayu, dan juga bukan keraton Yogyakarta karena protokolernya agak terlalu kebarat-baratan.
Saya tidak terlalu ingat, namun sepertinya peran saya di sana adalah sebagai saudari dari seorang wanita yang baru menikah dengan seorang pegawai kerajaan itu (wanita tersebut bukanlah saudari saya dalam kenyataan). Bersama dengan si saudari dan suaminya, saya berkesempatan mengikuti suatu upacara kerajaan. Suami si saudari, ia pegawai berpangkat rendah, tugasnya berjaga di pintu masuk venue upacara. Sementara itu, kami diperbolehkan ikut iring-iringan upacara.
Iring-iringan upacara tersebut dipimpin oleh para putra-putri raja yang bersama-sama memikul suatu peti berisi benda utama yang akan digunakan dalam upacara tersebut. Namun di tengah jalan, mereka merasa pikulan mereka terlalu berat. Entah bagaimana, lantas saya didapuk untuk membantu mereka memikul peti tersebut.
Kami lalu masuk ke venue upacara. Di pintu masuk, wajah setiap orang ditaburi semacam bubuk oleh penjaga, entah apa maksudnya. Venue upacara itu sendiri lebih menyerupai bangunan gereja Katolik yang besar dan penuh ornamen. Di dalamnya, telah disediakan tempat khusus untuk anggota keluarga dan pegawai kerajaan, serta tempat biasa untuk warga sipil. Saya dan saudari saya, tentu saja kami duduk di tempat khusus tersebut. Seorang ibu dan anaknya kemudian datang, tidak tahu-menahu tentang pembagian tempat tersebut. Mereka hendak duduk di tempat kami, sampai seorang pria anggota keluarga kerajaan mengusir mereka serta mendorong si anak. Saya kesal melihatnya. Saya rasa pria itu tidak perlu bertindak begitu kasar, walaupun ia anggota keluarga kerajaan sekalipun.
Kemudian, entah karena kesal atau bosan, saya meninggalkan tempat itu, bahkan sebelum upacara di mulai. Anehnya, belum jauh dari sana, saya langsung menemukan ibu saya bersama seorang teman wanitanya (teman ibu saya tersebut bukanlah orang yang saya kenal di dunia nyata). Teman ibu saya itu adalah seorang pemilik sanggar seni. Ketika saya mendatangi mereka, beliau sedang bercerita betapa menyesalnya ia karena tidak memiliki murid yang sama berbakatnya seperti ibu saya. Kenyataannya ibu saya memang penyuka seni. Beliau suka menyanyi dan cukup bagus, meski tentu saja kalah dengan kebanyakan orang lain yang sudah ahli.
Kami lalu berjalan-jalan bersama dan bersiap membeli tiket pertunjukan yang digelar sanggar seni milik teman ibu saya.
Halo. Ini adalah blog tempat saya akan mencatat mimpi-mimpi saya. Mungkin bagi kebanyakan orang, mimpi merupakan hal yang inesensial. Ya, demikian pula anggapan saya. Tapi, sering kali mimpi saya bersifat sangat spesifik, serta memiliki visualisasi yang mendekati kenyataan. Kadang saya jadi tidak ingin mengingat-ingat mimpi-mimpi tersebut.
Jadi, di sinilah, saya akan mencatatnya sebelum sempat terlupakan.
